SELAMAT DATANG DI BLOG KAMI ----------- SUGENG RAWUH .

Minggu, 09 November 2008

Kisah Pasca Eksekusi Trio BOM BALI Amrozi dkk


JAKARTA - Setelah eksekusi mati dilakukan terhadap tiga terpidana kasus bom Bali I, Mabes Polri berharap teroris dan isu bom lainnya dapat lenyap dari Indonesia. Pasalnya, kejadian tersebut sangat meresahkan masyarakat.

"Semoga dengan dieksekusinya tiga terpidana mati bom Bali I, tidak ada lagi kejadian bom disana-sini," ujar Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Abubakar Nataprawira saat dihubungi Minggu (9/11/2008) dini hari.

Menurutnya, eksekusi yang dilakukan Kejagung pada pukul 00.15 WIB tadi, membuat masyarakat tidak lagi bertanya-tanya kapan eksekusi Amrozi Cs dilaksanakan.

"Jangan ada lagi pertanyaan kapan mereka dieksekusi. Semoga masyarakat bisa lebih menjaga keamanan kedepannya," tandasnya.

Eksekusi tersebut, lanjut dia, sudah sesuai dengan prosedur. Pihaknya juga mengaku tidak akan menambah pasukan khusus untuk pengamanan setelah eksekusi mati dilakukan.

Sebagaimana diketahui, tiga terpidana mati kasus bom Bali I Amrozi, Ali Ghufron alias Mukhlas, dan Abdul Aziz alias Imam Samudera telah dieksekusi pukul 00.15 WIB dini hari tadi dengan cara ditembak. Selanjutnya, ketiga jenazah tersebut akan dibawa menuju kampung halamannya masing-masing

Tim medis menyatakan ketiga terpidana mati kasus bom Bali yaitu Amrozi, Imam Samudra, dan Ali Gufron alias Mukhlas, langsung meninggal setelah dieksekusi dengan cara ditembak.

Demikian ditegaskan Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung M Jasman Panjaitan menanggapi adanya dugaan ketiganya tidak langsung meninggal. "Setelah ditembak oleh regu tembak dari kesatuan Brimob, ketiganya lalu diperiksa oleh tim medis dan dinyatakan meninggal saat itu juga," katanya kepada wartawan saat menggelar keterangan pers di gedung Kejaksaan Agung, Jakarta, Minggu (9/11/2008).

Ketiganya dieksekusi sekira pukul 00.15 WIB yang disaksikan polisi, jaksa, rohaniawan, dan tim dari Dinas Kesehatan Cilacap. Selanjutnya, ketiga terpidana dibawa ke poliklinik di sekitar LP Batu Nusakambangan untuk diautopsi. "Keterangan dari dokter, ketiganya langsung meninggal ditembak," ungkap M Jasman.

Usai diautopsi dan dijahit luka tembaknya, kata dia, pihak keluarga langsung memandikan dan mengkafaninya.

Hingga kini belum pernah ada terpidana kasus terorisme di dunia ini yang dijatuhi hukuman mati. Amrozi, Imam Samudra, dan Muklas adalah yang pertama.

"Sampai detik ini pun belum ada tersangka teroris di dunia yang dihukum mati melalui pengadilan. Jadi bila eksekusi ini terjadi, maka inilah kali pertama terpidana terorisme dihukum mati," kata Fauzan Al-Anshari, Direktur Lembaga Kajian Strategis Islam (LKSI), dalam surat elektronik yang ditujukan kepada salah satu media masa Minggu (9/11/2008).

Fauzan lalu membandingkan pidana mati ketiganya dengan peledakan yang dilakukan oleh Syekh Omar Abdurrahman di Oklahoma sekira tahun 1995. Oleh otoritas Amerika Serikat, Syekh Omar hanya dihukum seumur hidup.

Fauzan mengatakan, saat dirinya membesuk Amrozi, Imam Samudra, dan Muklas pada 17 Oktober lalu dan menanyakan peran mereka terhadap kasus Bom Bali I, Amrozi menjelaskan bahwa peran utamanya adalah membeli bahan bom berupa karbit sebanyak satu ton.

"Dia membeli dari toko Tidar di Surabaya," kata dia.

Sementara Muklas merupakan seorang ustad yang memberi semangat untuk melakukan aksi pengeboman tersebut. Imam Samudera melakukan survei dan konsep penyerangan yang ia lakukan tiga bulan sebelum bom diledakkan. Secara khusus Imam membuat website bertitel istimata.com yang isinya mengklaim bertanggung jawab atas peledakan bom tersebut.

Namun yang menjadi pertanyaan, menurut Fauzan, mengapa Ali Imron, adik Muklas dan Amrozi, yang memiliki peran lebih banyak, justru tidak dijatuhi hukuman mati. Padahal, menurut penuturan Muklas kepada Fauzan, Ali Imron adalah ahli merakit bom dan perannya dalam bom Bali jauh lebih besar dari dirinya.

"Semestinya Muklas, Amrozi, dan Imam Samudra tidak sampai dihukum mati," kata Fauzan.

"Mengapa Ale cuma dihukum seumur hidup? Apakah karena dia dianggap kooperatif dengan Komjen Gories Mere sehingga diajak 'dugem' di kafe Starbucks? Atau karena telah memberi info penting tentang anggota JI sehingga diundang buka bersama di rumah Komandan Densus 88 Brigjen Surya Dharma?" tanya Fauzan.

Kisah dibalik pasca Eksekusi Trio Bom Bali

Autopsi Amrozi Cs Hanya untuk Menjahit Luka

Autopsi seusai eksekusi terhadap tiga terpidana bom Bali Amrozi, Muklas, dan Imam Samudra, dilakukan untuk mengetahui, sekaligus menjahit luka bekas tembakan di dana bagian kiri ketiganya.

"Tidak ada maksud lain dari autopsy, hanya untuk menjahit luka," kata Kepala Pusat Penerangan dan Hukum Kejaksaan Agung (Kejagung) Jasman Panjaitan, usai konferensi pers tentang eksekusi Amrozi cs di Kejagung, Jalan Sultan Hasanuddin, Jakarta, Minggu (9/11/2008).

Jasman menambahkan, peluru yang dipakai dalam eksekusi tersebut adalah satu setiap terpidana mati. "Hanya satu yang tepat di dada bagian kiri hingga mengenai jantung," imbuhnya.

Disinggung mengenai apakah ketiganya melakukan perlawanan saat dilakukan eksekusi, Jasman mengatakan Amrozi cs sangat kooperatif saat eksekusi.

Sementara itu saat dimintai tanggapan mengenai rencana pengacara Amrozi cs dari Tim Pembela Muslim (TPM) yang akan menggugat kejaksaan ke Mahkamah Internasional, menurut Jasman kejaksaan tidak berhak berkomentar.

"Puspen Kejagung tidak dalam posisi berpendapat, kami hanya berhak menyampaikan fakta dan norma," pungkasnya.

Amrozi dan Ali Gufron Akhirnya Dimakamkan.

LAMONGAN - Jenazah dua terpidana mati Amrozi dan Ali Gufron alias Muklas sekira pukul 14.30 WIB, Minggu (9/11/2008), akhirnya dimakamkan oleh pihak keluarga.

Kedua jenazah tersebut diberangkatkan dari Pondok Pesantren Al Islam Tenggulun, Solokuro, Lamongan dengan diantar ribuan pelayat. Sesekali para pelayat melantunkan takbir mengiringi jenazah.

Saat memasuki area pemakaman sempat terjadi keributan, karena salah seorang jurnalis dari Al-Jazeera yang sudah satu jam menunggu di pemakaman, tapi dilarang mengambil gambar dengan cara yang kasar.

Meskipun mengikuti kemauan yang melarang, namun jurnalis lainnya memperotes, pasalnya sebelumnya pihak keluarga sudah mengizinkan asalkan bukan jenazah.

Hal tersebut juga diamini beberapa santri Ponpes Al Islam yang ikut mengantarkan adik dari pengasuh Pondok Pesantrennya, Al Khozin

Amrozi Cs Dieksekusi, Monumen Ground Zero Ramai

DENPASAR - Monumen Bom Bali atau lebih dikenal dengan menumen Ground Zero yang terletak di Jalan Legian Kuta, Bali, Minggu (9/11/2008) siang, tampak ramai dikunjungi wisatawan asing, seusai tiga terpidana mati bom Bali Amrozi cs dieksekusi dini hari tadi.

Para wisatawan yang sebagian besar warga Negara Australia itu terus berdatangan di monumen yang merupakan titik ledakan bom Bali 12 Oktober 2002 lalu.

Mereka membawa karangan bunga dan menyimpannya di dekat prasasti yang memuat 202 nama korban tewas dalam insiden bom Bali di Paddys Cafe dan Sari Club enam tahun silam itu.

Salah saeorang wisatawan Australia bernama Robert Ovadio mengaku mengapresiasi positif tindakan pemerintah yang telah mengeksekusi tiga terpidana mati bom Bali itu. "Saya senang mereka dieksekusi," ujarnya di monumen Ground Zero.

Komentar Ba'asyir : Muklas & Amrozi Mati Syahid


LAMONGAN - Pimpinan Pondok Pesantren Al Mukmin Ngruki, Sukoharjo, Ustadz Abu Bakar Ba'asyir tiba di kediaman Ibunda Amrozi-Muklas, Hj Tariyem sekira pukul 14.00 WIB. Dalam Tausiyahnya Abu Bakar menyatakan Amrozi dan Muklas adalah mati syahid.

Ba'asyir, datang dengan berjalan kaki dari jalur utara Ponpes Al Islam dikawal puluhan pendukung Amrozi-Muklas. Para wartawan dibatasi dan dilarang mengambil gambar ustadz sepuh itu. Mereka pun bahkan melarang pengunjung yang mengambil gambar Ba'asyir melalui ponsel mereka.

Setibanya di rumah duka, Ba'asyir langsung menyalatkan dan mendoakan keduanya, sebelum akhirnya memberikan tausiyah di hadapan ribuan orang keluarga besar dan simpatisan Amrozi-Muklas.

"Keluraga yang ditinggalkan harus bergembira karena keduanya meninggal fi sabilliah dalam memerangi kebathilan di dunai," ujar Ba'asyir dalam tausyiah.

Rencananya, setelah tausyiah, jenazah keduanya akan dibawa ke pemakaman. Upacara akan dipimpin langsung oleh ustadz Abu Bakar Ba'asyir dengan kawalan ketat ratusan satgas keluarga besar Amrozi-Muklas.

Makam Imam Samudra Masih Dibanjiri Ratusan Orang.

SERANG BANTEN - Meskipun sudah dimakamkan sejak pukul 10.00 WIB tadi pagi, namun makam Imam Samudra di taman pemakam umum Lopang Gede sampai sore ini masih dibanjiri ratusan orang.

Kebanyakan orang yang datang berpakaian muslim dan baju biasa. Ada yang ingin berziarah, tapi ada juga yang hanya sekedar ingin melihat saja.

Kebanyakan orang yang datang ini, bukan hanya dari masyarakat sekitar, terdapat juga orang dari luar kota. Seperti Eman, dia adalah warga Pandeglang yang letaknya sangat jauh dari TPU.

Dia mengaku memang sengaja datang ke TPU ini hanya untuk melihat kuburan dari Imam Samudra.

"Ingin tahu saja, seperti apa sih Imam Samudra," katanya, Minggu (9/11/2008). Sayangnya, dia hanya bisa melihat nisan dan kuburan Imam Samudra saja.

Selain itu, sejumlah pusara di sekitar makam Imam Samudra tampak rusak, akibat terinjak-injak ribuan massa yang ikut menghantar Imam Samudra ke liang lahat.

8 komentar:

pande baik mengatakan...

wah, kasian banget pusara orang yang kena injek ya ?

Anonimmengatakan...

:)) wah di lamongan ma di serang lagi pada makan2 nih... mampus dah loh bertiga ktemu dah ma korban2 lo di neraka sono =))

wildan mengatakan...

terima kasih sudah diperbolehkan mengisi, blog yang bagus dan menarik.
lihat juga blog-ku
http://muhammadzaidan.wordpress.com/
salam kenal yah.

top insurance mengatakan...

thanks artikelnya.. buat tugas religion nih... :|

ahmadmengatakan...

selamat jalan pahlawan....

upelmengatakan...

buat anonim
"smoga kamu dipersatukan dineraka kelak, bersama orang-orang kafir"

Anonimmengatakan...

"Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Alloh itu mati, bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki." (Ali Imran : 169)

Anonimmengatakan...

Rejeki dapat togel goblokkkkkkk

Posting Komentar

 
Design Template By Prajurit Sejati @ 2008