SELAMAT DATANG DI BLOG KAMI ----------- SUGENG RAWUH .

Minggu, 09 November 2008

Mengenang Amrozi, Ali Ghufron dan Imam Samudera

Ali Gufron Pernah Ikut Usir Soviet dari Afganistan

Dibandingkan Imam Samudra dan Amrozi, mungkin Ali Gufron alias Muklas lah yang memiliki pengalaman lebih di dalam jaringan teroris. Bahkan, dia pernah bertemu dengan pimpinan Al Qaeda, Osama bin Laden pada tahun 1987.

Muklas lahir di Solokuro, Lamongan 2 Februari 1960 ini pernah mengeyam pendidikan pesantren di Al Mukmin, Ngruki, Solo. Pondok Pesantren tersebut dipimpin mantan amir jamaah Islamiyah Abu Bakar Baasyir.

Setelah lulus dari Al Mukmin, Muklas pergi ke luar negeri untuk mengikuti perang di Afganistan. Kemudian, dia bersama pasukan Afganistan berperang melawan tentara Uni Soviet dari tahun 1980-1989, sebagai anggota pasukan brigade internasional Osama bin Laden.

Setelah berhasil mengalahkan Uni Soviet, pemerintahan Afganistan pun diambil alih oleh Taliban. Muklas pun kembali ke Asia Tenggara untuk menghubungkan operasi jamaah Islamiyah.

Kemudian, dia diangkat menjadi Ketua JI mantiqi I dengan wilayah kekuasaan meliputi Sumatera, Singapura, Malaysia, dan Thailand Selatan.

Kemudian paada tahun 1991, atas perintah Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Baayir, Muklas mendirikan pesantren Lukmanul Hakim yang ajarannya sama dengan pesantresn Ngruki, Solo.

Dikabarkan, Nordin M Top pernah menjadi kepala sekolah di pesantren ini. Dari pesantren inilah dia merekrut Muhammad Rais dan yang lainnya untuk meledakkan JW Marriot. Sedangkan DR Azhari bertindak sebagai direktur dewan pengurus pesantren ini.

Bom Mikronuklir dalam Peristiwa Bom Bali 1 ?

JAKARTA - Imam Samudra, Muklas, dan Amrozi telah dieksekusi mati dini hari tadi. Namun, peristiwa Bom Bali I yang terjadi pada 12 Oktober 2002 masih menyisakan keraguan bagi sejumlah kalangan.

Pertanyaan yang muncul antara lain, tentang bahan baku bom dan pelaku utama di balik peristiwa tersebut.

Fauzan Al-Anshari, Direktur Lembaga Kajian Strategis Islam (LKSI), dalam surat elektronik yang ditujukan kepada salah satu media massa menyebutkan adanya kemungkinan bom yang digunakan adalah bom mikronuklir. Fauzan menyebutkan tulisan sejumlah investigator tentang kemungkinan itu.

Seperti Joe Vialls, investigator bom independen Australia yang wafat 2005 lalu. Dalam situsnya (www.thetruthseeker.co.uk/columnist.sp?ID=3), Vialls menulis tiga artikel berjudul: Bali Micro Nuke Buried By Western Media, Bali Micro Nuke-Lack of Radiation Confuses "Expert", dan Micro Nuke Used in Bali "Terrorist" Lookalike Attack.

Vialls menegaskan bahwa adanya cendawan panas, kawah, cahaya, dan listrik mati sebelum ledakan bom adalah bukti tak terbantahkan hadirnya mikronuklir dalam bom tersebut.

"Bahkan, saksi lain, Kapten Rodney Cox, yang juga menyaksikan bom itu meledak dan membuat tulisan yang dimuat di situs Army Australia, tetapi mendadak dihapus karena laporannya bisa membuat masalah bagi Australia di masa datang," ungkap Fauzan, Minggu (9/11/2008).

"Sayang sekali, sampai sekarang umat Islam tidak mengetahui second opinion siapa sesungguhnya pelaku utama bom tersebut," sesalnya.

Fauzan menyatakan, sudah beberapa kali dirinya bertemu Jenderal (purn) Ryamizard Ryacudu, mantan KSAD era Megawati. Dalam pertemuan itu Ryamizard menjelaskan ketidakmampuan TNI untuk membuat bom sedahsyat itu.

Almarhum ZA Maulani, mantan kepala BAKIN era Habibie, menurut Fauzan, juga sering bertemu dirinya untuk menjelaskan bahwa bahan bom Bali itu bukan karbit, TNT, atau C4, melainkan mikronuklir.

"Saya pun diajak rapat membahas hal itu dengan sejumlah petinggi MUI di Istiqlal. Namun, karena adanya tekanan dari pihak tertentu, maka hasil investagasi MUI urung dipublikasikan dan batal menjadi saksi adecharge (meringankan) di sidang pengadilan Amrozi dkk di Bali," ungkap dia.

Dengan demikian, Fauzan yakin bom yang meledak dan menewaskan 202 orang itu adalah bom mikronuklir. Bukti yang menguatkan, menurut Fauzan, adalah para kulit korban hingga saat ini masih sakit, gatal-gatal, dan bila terkena sinar matahari menjadi keriput dan bengkak, mirip korban bom nuklir di Hiroshima, Jepang. "Bagi yang tidak percaya saya ajak ber-mubahalah, siapa yang dusta disambar petir. Itu (bom) tidak mungkin disebabkan oleh karbit," pungkas dia.


0 komentar:

Posting Komentar

 
Design Template By Prajurit Sejati @ 2008